Kamis, 27 Juli 2017

Saronen

Madura adalah salah satu pulau di Indonesia yang kaya akan ragam budaya, salah satu budaya yang sampai saat ini masih dilestarikan keberadaannya adalah saronen. Dalam sebuah buku yang berjudul “Lebur; Seni Budaya dan Musik Madura” karangan Helene Bourvier. Saronen adalah sebuah alat musik yang berasal dari timur tengah yang mana pada daerah asalnya ia di kenal dengan beraneka ragam nama yaitu surnai, sirnai, sarune, shahnai dan lain sebagainya.
Instrumen itu berbentuk kerucut dari pohon jati dengan enam lubang berderet di belakang dan satu lubang di belakang. Seperti sebuah terompet, meskipun pada dasarnya saronen adalah satu alat yang serupa terompet. Namun orang-orang Madura menyebut nama saronen untuk keseluruhan permainan musik tersebut
Musik saronen muncul karena kreatifitas orang Madura yang kemudian menjadikan musik saronen khas Madura. Kata saronen tersebar ke pulau jawa dan Madura seiring dengan nusantara lainnya, karena itulah setiap nusantara memiliki perbedaan budaya dalam memainkan saronen
Saat ini budaya saronen mengalami pergeseran perbedaan kostum, dimana pada sekitar tahun 80-an kostum yang dipakai para pemain music saronen adalah kostum-kostum yang berkarakter, sedangkan sekarang mulai diubah pada kostum-kostum yang berbau modern
Prosesi Saronen
Saronen yang umum di adakan di sekitar masyarakat Madura adalah ketika. Pertama. Ajang Sapi Sono’ (lomba kecantikan sapi) atau biasa di sebut sebagai “ Lotrengan” oleh orang Madura yaitu sebuah arisan sapi sono yang melombakan sapi. Biasanya saronen yang mengiringi sapi sono berada di belakang sapi sono sambil mengiringi dengan berjalan perlahan-lahan. Dalam prosesi ini akan terlihat keunikan tersendiri karena dengan sendirinya sapi akan menggerakkan tubuhnya seiring dengan alunan musik Saronen.
Kedua, Kerapan Sapi ; dalam acara ini Saronen berperan sebagai pengiring hiburan. Ketiga, Pernikahan; dalam acara pernikahan biasanya Saronen mengiringi pasangan pengantin yang menaiki kuda dan berarak mengitari pekarangan rumah atau jalan. Keempat, Nadzar ingin menziarahi kubur. Hal ini biasa di lakukan oleh masyarakat Madura pada zaman dahulu kala. Kelima, Khitanan yang terkadang di adakan dalam rangka hiburan semata.
Alat-alat musik Saronen dan maknanya
Umumnya dalam Saronen terdiri atas lima orang pemain yang memainkan beberapa alat musik saronen. Secara umum Saronen adalah sebuah alat musik yang mewakili seluruh iringan alat musik lainnya. Itulah alasannya kenapa di sebut Saronen oleh orang Madura .Beberapa alat Saronen yang dibutuhkan adalah :
Saronen
Alat ini terbuat dari akar kayu jati pilihan karena bentuk Saronen yang di hasilkan akan lebih bagus dan halus. Saronen merupakan sumber dari segala irama ketika di mainkan. Dalam Saronen ini terdapat sembilan lubang yang berjejer dari atas ke bawah yang memiliki makna bahwa setiap manusia berdasarkan fitrahnya memiliki 9 lubang di setiap anggota tubuhnya. Berawal dari mata, hidung, kuping , mulut dan alat vital.
Selain itu juga berarti “ Bismillahirrahmanirrahim” yang mempunyai 9 suku kata ketika di ucapkan dan hubungan makna Bismillahirrahmanirrahim dan 9 lubang pada Saronen adalah menyimbolkan seorang manusia yang pada hakikatnya tidak pernah lepas dari bacaan basmalah ketika hendak melakukan sesuatu. Saronen di tiup oleh mulut. .Bahan peniup Saronen adalah kulit kelapa yang keras (batok) dan pohon siwalan (ra kara) yang berbentuk seperti kumis. Jika bahan dari peniup tersebut merupakan bahan-bahan yang baik dan cermat ketika membuatnya maka di percayakan akan menghasilkan bunyi yang baik dan enak di dengar.
Ghung
Sebelum saronen di mainkan ketua Saronen akan meneriakkan kata “ ghung” sebagai tanda “ mengajak teman-teman untuk bersiap-siap “ . Dalam alat ini tedapat dua ghung yang dimainkan yaitughung raje dan ghung kene’. Sebagian orang juga menyebutkantabbhuwen kene’ dan tabbhuwen raje. Ghung rajeyang berbentuk bulat dan besar memiliki makna “Seorang Bapak”. Ini menandakan bahwa seorang bapak yang sering memberikan arahan dan nasihat kepada keluarganya.Hal ini di hubungkan karena ghung raje sering mengiringi ala tmusik lainnya. Sedangkan ghung kene’memiliki makna “ Seorang Ibu” . Menandakan bahwa seorang ibu yang selalu mengiyakan kata-kata suami (Bapak).
Gendhang
Alat ini memiliki makna yang sangat unik karena di analogikan sebagai “Orang Mati”. Hal itu di karenakan bentuknya yang tertutup di atas dan bawah serta besar di tengah.Makna yang terkandung dalam gendhang ini adalah bahwa dalam keadaan apapun manusia memiliki akhir hayat yang akhirnya di analogikan seperti gendhang.
Kercah
Mekker Ma’leh Peccah “ sebuah simbal kecil yang dimainkan oleh kedua belah tangan dengan cara saling di pukul . Alat tersebut mempunyai makna bahwa manusia hendaknya selalu berpikir sebelum melakukan sesuatu. Hal ini agar apapun yang kita lakukan akan berhasil baik. Seiring dengan hal itu maka tak luput dengan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar masalah apapun yang kita hadapi dapat terselesaikan berkat ridha-Nya.


Sumber : Zainul Muttaqin
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Popular